in

Daun di Atas Bantal (1998): Film Jadul Indonesia yang Mendunia

Film Daun di Atas Bantal karya Garin Nugroho ini merupakan salah satu film Indonesia yang patut kita banggakan. Selain memenangkan Fury Prize dalam Tokyo International Film Festival, film ini juga merupakan official entry Indonesia untuk Oscar di tahun 1999. Meskipun tidak masuk nominasi, namun fakta bahwa Indonesia mampu mencapai 12 besar di ajang prestisius ini adalah sebuah prestasi yang membanggakan.

Ide dasar film ini berawal ketik Garin Nugroho baru merampungkan film Dongeng Kecil yang bercerita mengenai seorang anak jalanan bernama Kancil di Yogyakarta. Tanpa disangka, film tersebut berhasil menarik perhatian penonton lokal maupun internasional.

Setelah kesuksesan Dongeng Kecil, Garin Nugroho dan Christine Hakim pun mulai mengerjakan proyek ambisius mereka, Daun di Atas Bantal. Ceritanya yang jujur dan lugas menjadi sebuah kelebihan dari film yang bersetting di Yogyakarta ini.

Drama Kriminal Yang Menyentuh

review-Daun-di-Atas-Bantal

Film ini bercerita mengenai kehidupan anak jalanan yang lekat dengan kejahatan, perampokan, lingkungan yang tidak kondusif dan banyak lagi. Penonton seolah diajak untuk ikut memperhatikan apa yang telah terjadi pada anak-anak Indonesia sehingga realita bahwa hidup itu keras adalah pelajaran pertama dalam hidup mereka.

Beberapa scene memprihatinkan ketika dimana mereka menumbuk batere bekas untuk mencampurnya dengan spiritus untuk dijadikan bahan semir sepatu, bagaimana mereka begitu akrab dengan daun kecubung yang dicampur kopi, bagaimana mereka menghadapi hidup dengan beragam permasalahan, belum lagi bagaimana mereka harus menghadapi kepergian temannya yang meninggal secara tragis.

Semua ini digambarkan secara gamblang, jujur dan to the point oleh Garin dan Christine yang ikut berperan dalam film tersebut.

Daun di Atas Bantal adalah sebuah manefistasi kenyataan tentang kerasnya hidup sebagai anak jalanan yang disajikan dalam balutan fisik yang menyenangkan untuk diikuti.

Aspek realitas itu pun menjadi salah satu pertimbangan utama Garin dan Christine dalam membuat film ini. Salah satunya adalah dengan menggunakan anak-anak jalanan yang sesungguhnya untuk bermain dalam film ini, tentunya dengan didikan akting dari Garin Nugroho dan Christine Hakim sendiri.

Ide tersebut terbukti berhasil, permainan natural yang hadir dari anak-anak tersebut menunjukkan bahwa kedua sineas ini telah berhasil menampilkan sesuatu yang nyata.

Potret Kenyataan Pahit

review-Daun-di-Atas-Bantal

Karya ini merupakan suatu kebanggaan sekaligus “pesakitan” yang mendalam bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, film ini telah berhasil mendapatkan rekognisi yang luar biasa dari dunia internasional namun film ini justru menggambarkan potret kelam masyarakat kita yang sering disebut-sebut sebagai Masyarakat Madani.

Garin Nugroho sendiri memang seorang sutradara yang sangat peka akan masalah sosial, sangat peka akan perkembangan masyarakat kita dan sangat atentif terhadap berbagai keputusan pemerintah. Tidak heran jika ia banyak disebut sebagai salah satu sineas Indonesia yang berhasil memotret kehidupan masyarakat Indonesia.

Karyanya yang lain, Surat untuk Bidadari (1994), juga merupakan salah satu film Garin yang masuk dalam official jury selection di Tokyo International Film Festival tahun 1995, namun baru dengan Daun di Atas Bantal-lah Garin mendapatkan perhatian dari dunia internasional untuk karyanya ini.

Christine Hakim pun sebagai seorang aktris juga telah banyak mendapat penghargaan untuk perannya dalam film ini. Film Daun di Atas Bantal juga mengangkat namanya di kancah internasional sehingga ia pun diikutkan sebagai salah satu juri dalam festival film Cannes yang sangat prestisius.

Akting Christine dalam film ini juga merupakan sebuah landmark utama mengingat justru dalam film ini Christine-lah yang banyak bertanya pada anak-anak jalanan tersebut guna mendalami dan menjiwai peran yang dibebankan kepadanya.

Biarlah film ini menjadi cerita manis mengenai perkembangan film Indonesia dan potret sosial yang sudah sewajarnya kita pecahkan bersama sebagai masyarakat Indonesia yang mengusung tinggi budaya timur.

Daun di Atas Bantal adalah sebuah potret kenyataan yang pahit namun berhasil dibungkus dengan manis dan apik sehingga bisa dinikmati oleh para penggemar film tanah air.

Written by Jeffry

A Techno lover!

rekomendasi-film

Rekomendasi Film: Ready Player One, The Post & Red Sparrow

game-nomor-1

Game Nomor 1 di Dunia Edisi Tahun 2021