in

Review Film Aquaman (2018)

review-aquaman

Kita boleh bilang apa saja soal Batman v Superman atau Justice League, tapi yang jelas, Zack Snyder lah penemu Jason Momoa dan Aquaman versi macho. Meski begitu, yang membuatnya benar-benar bersinar adalah sutradara James Wan. Ia membuat Aquaman jadi tampak keren dan asyik. Tak ada lagi yang bakal mengolok-olok kekuatan supernya yang notabene cuma berguna di laut tapi ampas di darat. Sekarang, saya mau jadi Aquaman.

Pada dasarnya, keseluruhan film ini adalah soal betapa kerennya Aquaman dan tokoh-tokoh di sekitarnya saat melakukan hal-hal konyol atau melontarkan dialog cheesy. Disini ada tentara yang mengendarai hiu berzirah dan kuda laut raksasa. Ada pertempuran besar yang melibatkan manusia kepiting. Ada Amber Heard yang memakai kebaya dari ubur-ubur. Kalau itu tak memancing anda segera memesan tiket, saya tak tahu lagi apa yang bisa membuat hati anda tergerak untuk ke bioskop.

Sebetulnya, saya juga tak tahu harus bagaimana saat menyaksikan itu semua. Entah harus terngaga kagum atau malah menertawakannya. Tapi saya berani mengkonfirmasi bahwa Aquaman adalah salah satu film superhero paling imajinatif secara visual. Desain set-nya sangat spektakuler, menyilaukan mata, dan penuh dengan detail. Semestanya sangat ganjil, dan ia tak ragu-ragu untuk menenggelamkan kita sepenuhnya. Skalanya begitu besar sampai pertarungan apokaliptikal Justice League jadi tampak seperti remahan astor.

Film dibuka dengan asal mula Aquaman. Terlahir dengan nama Arthur Curry, ia adalah buah hati dari seorang penjaga mercusuar (Temuera Morrison) dengan ratu Atlantis, Atlanna (Nicole Kidman) yang terdampar di pantai. Arthur tumbuh dengan kekuatan seorang Atlantis, tapi membenci kaumnya karena merenggut sang ibu saat ia masih kecil. Dengan kekuatan itu, ia (Jason Momoa) melakukan beberapa tindakan heroik walau menolak disebut pahlawan.

Sampai kemudian datanglah putri bawah laut, Mera (Amber Heard) yang membawa kabar bahwa dunia sedang dalam bahaya. Arthur ternyata punya adik tiri di bawah laut. Namanya Orm (Patrick Wilson) dan ia berencana menyatukan tujuh lautan untuk menyerbu daratan demi mendapatkan gelar “Penguasa Lautan”.

Ceritanya sederhana tapi bukan berarti tak ribet. Film ini berdurasi hampir dua setengah jam, tapi masih tetap terasa kepenuhan. Ada terlalu banyak hal yang dimasukkan ke dalam film. Nanti, Arthur dan Mera bertualang untuk mencari trisula legendaris dan peradaban yang hilang. Ada konflik antarsuku bawah laut. Ada pula subplot mengenai asal mula musuh bebuyutan Aquaman, Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) yang sangat saya suka bobot dramanya, tapi terasa tak begitu relevan dengan cerita. Dan kemudian sampailah kita pada pertempuran klimaks yang melibatkan ribuan tentara kreasi CGI, satu monster raksasa, dan banyak ledakan. Sebagaimana yang kita pelajari dari film-film DCEU sebelumnya, pasti eksekutif Warner Bros menyeringai puas melihat ini.

Tak ada satupun adegan yang berlangsung terlalu lama, which is kenapa film ini jarang sekali terasa membosankan. Semua bergerak dengan hiperaktif, tak memberi jeda atau nuance yang berarti. James Wan yang berangkat dari maestro horor, sudah pernah mengkhatamkan sajian kekonyolan berbujet mahal lewat Furious 7. Dengan format film superhero, Wan bisa lebih bersenang-senang. Adegan aksinya dinamis dan eksplosif. Ia banyak bermain degan trik kamera untuk menyajikan sekuens aksi dengan pemanfaatan angle yang sangat-sangat mantap.

Tentu saja film ini sangat CGI-overload. Bagaimana lagi coba membuat pertarungan bawah air dimana jagoan kita bisa bergerak bebas ke segala arah. Saya menikmati serbuan visual dan efek spesialnya yang menusuk mata. Film ini tak ditakdirkan untuk realistis. Wan tahu ini dan memilih untuk bersenang-senang dengan hal tersebut. Wan terasa seperti mencoba semua yang bisa ia pikirkan, tak peduli entah itu terlihat menggelikan atau tidak. Menonton Aquaman, saya yakin bahwa film ini adalah sebuah pencapaian.

Written by Jeremy

review-ralph

Review Film Ralph Breaks the Internet (2018)