in

Review Film Dangal (2016)

review-film-dangal-2016

Dangal adalah sebuah film olahraga yang bagus dan sebuah film keluarga yang pas, dan seringkali drama olahraga yang mantap dibangun dari gabungan sukses antara kedua elemen ini. “Dangal” dalam bahasa India berarti “pegulat”, dan sekuens gulat dalam Dangal dibuat dengan baik. Dramanya, yang mengenai keluarga khususnya kasih sayang antara ayah-anak, lumayan basic tapi begitu relatable, saya seringkali mengasosiasikannya dengan kehidupan pribadi.

Dalam hal crafting adegan, sekuens aksi di arena gulat yang dilakukan oleh pemainnya begitu meyakinkan hingga saya nyaris dibuat percaya bahwa Zaira Wasim, Suhani Bhatnagar, Fatima Sana Shaikh, Sanya Malhotra dan beberapa lainnya adalah atlet sungguhan. Kalau tidak, pastilah mereka menjalani pelatihan seintens yang dilakukan atlet sungguhan. Kita bisa melihat saat mereka bergulat, uhm, mereka benar bergulat, bukan dengan permainan angle atau jurus editing.

Film ini dibuat dari kisah nyata Mahavir Singh Phogat yang berhasil mencetak dua anak gadisnya, Geeta dan Babita menjadi pegulat profesional kelas internasional. Sebelum film dimulai, teks awal menyatakan bahwa “peristiwa tertentu yang terjadi adalah fiksi dan didramatisasi demi kebutuhan film”. Benar, ini berarti Dangal tak mengklaim bahwa ia adalah biopik yang akurat, sehingga kita bisa memaklumi ceritanya yang begitu formulaik atau beberapa karakter yang diantagonisasi sesuai tuntutan plot. Saya tak yakin bahwa di pertandingan klimaks saat Commonwealth Games 2010, Mahavir benar-benar terkunci di gudang hingga tak bia menyaksikan anaknya bertanding.

Mahavir diperankan oleh Aamir Khan, yang mendapat kesempatan untuk tampil dengan fisik athlete-ready serta muka segar di beberapa menit awal, kemudian berubah menjadi bertubuh gempal dan mulai beruban di sebagian besar durasi. Meski berasal dari desa kecil, Mahavir berhasil menjuarai kejuaraan gulat nasional. Namun impiannya untuk meraih emas terhenti gara-gara desakan ekonomi yang mengharuskannya mencari “pekerjaan sungguhan”. Tanpa dukungan finansial dari pemerintah, Mahavir terpaksa mengubur mimpinya.

Mahavir berharap anak-anaknya kelak bisa meneruskan mimpi tersebut. Namun ternyata yang lahir adalah cewek. Begitu juga dengan anak kedua, ketiga, dan keempat, hingga akhirnya Mahavir berhenti mencoba… setidaknya sampai kedua anak tertuanya menghajar dua teman sekelas mereka yang adalah cowok. Nah lho, siapa tahu Geeta (Wasim) dan Babita (Bhatnagar) bisa merebut emas yang selama ini diidam-idamkannya?

Jadi Mahavir menyuruh keduanya mengabaikan pekerjaan rumah, meminta sang istri memaklumi dan mulai melatih keduanya dengan menu latihan yang berat dan menu makanan yang ketat. Orang-orang di desa mempertanyakan kewarasannya, tapi Mahavir tak gamang membangun arena gulat pasir di tengah sawah, menggunduli kepala hingga mengadu kedua anak gadisnya untuk bergulat dengan atlet gulat kampung. Dari satu kampung ke kampung lainnya, Geeta dan Babita meraih kemenangan sekaligus mengambil hati warga yang sekarang tak lagi memandang remeh mereka.

Film ini tak hanya mengenai keluarga, namun juga membawa pesan soal feminisme. Dangal menyajikan potret kehidupan atlet wanita yang berkembang di masa-masa seksis di India. Wanita diasumsikan untuk bekerja sebagai ibu rumah tangga, untuk melahirkan anak dan merawat suami serta keluarga, bukan menjadi atlit. Jadi bukan hanya soal bagaimana Geeta dan Babita dipandang sebelah mata, namun juga bagaimana mereka menerima komentar-komentar misogynist yang cenderung melecehkan di awal.

Di awal, saya sedikit risih dengan Mahavir yang digambarkan sebagai ayah egois yang rela melakukan apapun, termasuk “menyiksa” anaknya agar mimpinya tercapai. Ia tak bisa mendapatkannya sendiri, sehingga memperalat Geeta dan Babita menjadi suksesor, terlepas dari entah mereka mau atau tidak. Namun Dangal memberikan pemafhuman lewat momen saat Geeta dan Babita curi-curi waktu untuk menghadiri pernikahan sepupu mereka. “Setidaknya kalian punya ayah yang mengijinkan kalian meraih sesuatu, bukan sekedar membesarkan lalu segera menikahkan di usia muda agar secepatnya menghilangkan ‘beban'”, ujar sang sepupu.

Setelah intermission, cerita berpindah ke Badan Olahraga Nasional India karena sekarang Geeta (Sana Shaikh) sudah menjadi atlit nasional. Ini membuatnya jauh dari sang ayah, literally and figuratively. Sang pelatih menginginkan agar Geeta melupakan pelatihan kuno dari Mahavir. Ada sedikit tensi antarsaudari ketika Babita (Malhotra) bilang dengan tegas kepada Geeta bahwa ia akan menjadi atlit nasional lewat cara yang diajarkan sang ayah, jalan yang sejauh ini mengantarkan Geeta ke tempat ia sekarang berada.

Dangal adalah film crowdpleaser dan saya menikmati sebagian besar durasinya. Film ini mengikuti dengan persis formula dari kebanyakan film olahraga. Jika anda pernah mmenonton satu drama olahraga, momen puncak adalah sesuatu yang predictable. Namun saya tetap dibuat menggebu-gebu dengan akting yang meyakinkan, sekuens pertandingan yang dibuat dengan baik, serta scoring penuh semangat di latar belakang.

Written by Jeremy

review-film-Sausage-Party

Review Film Sausage Party (2016)

review-film-shazam

Review Film Shazam! (2019)