in

Review Film Monster Trucks (2017)

review-monster-trucks

Sang monster adalah makhluk bawah tanah semacam lumba-lumba bertentakel yang muncul ke permukaan gara-gara usaha pengeboran minyak yang tak memperhatikan ekosistem (iya, pesan moral). Ia tak seseram Tremors pastinya, karena itu akan menjadikan film ini sebagai film horor. Monster ini adalah makhluk yang relatif ramah dan doyan mengonsumsi minyak.

Dan ia mungkin mengerti bahasa Inggris juga. Seorang anak SMA bernama Tripp (Lucas Till, jelas tak terlihat seperti anak SMA, tapi mungkin Tripp memang sering tinggal kelas) menemukannya tergeletak di bengkel setelah kilang minyak milik perusahaan Terravex meledak. Tripp mencoba berdialog dengan makhluk yang dinamakannya Creech ini, dan si Creech tampaknya merespon terhadap apa yang diucapkan oleh Tripp.

Creech suka bermain dengan sesuatu yang punya roda. Jadi Tripp memodifikasi truk usang favoritnya agar bisa dijalankan oleh Creech, sementara Tripp mengendalikannya dari kursi kemudi. Pada dasarnya, Creech bergelayutan di chassis mobil untuk menggantikan fungsi mesin. Kita mengira Tripp akan mengajaknya mengikuti balapan atau pamer kecepatan, tapi plot utama film ini berpindah pada usaha mereka untuk melawan bos Terravex (Rob Lowe) yang mengutus tukang pukul tangguh (Holt McCallany).

Chris Wedge yang membuat film ini dari naskah yang ditulis Derek Connolly (Jurassic World) mencoba untuk menghadirkan formula lama mengenai kisah persahabatan antara manusia dengan suatu makhluk (entah itu alien, hewan, dll) seperti halnya film fantasi anak klasik semacam E.T. atau Free Willy. Dan meski Monster Trucks punya atmosfer dan gaya penceritaan yang tepat, lengkap dengan lelucon simpel dan trek lagu pembangkit semangat, filmnya tak cukup solid untuk menegakkan dua aspek yang membuat film-film klasik tadi berkesan: (1) ikatan antara tokoh utama dengan sang makhluk, serta (2) dinamika orang-orang di sekitar mereka.

Tripp merupakan karakter utama yang problematis. Di satu waktu, ia adalah pribadi simpatik yang peduli pada Creech, sementara lain waktu, ia memperlakukan Meredith (Jane Levy) yang jelas jatuh hati padanya, dengan tak ramah. Jika ini adalah film untuk anak-anak, saya tak tahu pesan apa yang akan mereka ambil dari sini. Karakter yang dimainkan Amy Ryan sebagai ibu Tripp, Barry Pepper sebagai ayah tiri Tripp, serta Danny Glover sebagai pemilik bengkel dimana Tripp sering nongkrong, tak lebih dari ceklis plot dari stereotipe karakter dalam film fantasi anak-anak.

Baru menjelang akhirlah Monster Trucks menaikkan persnelingnya dan menjadi film yang saya asumsikan diidam-idamkan oleh penonton targetnya. Sang “truk monster” memanjat dinding dan meloncati gedung-gedung. Kedengarannya konyol, tapi film ini punya tata produksi mapan yang membuat sekuensnya tampak meyakinkan, setidaknya sejauh logika anak-anak. Kejar-kejaran panjang antara truk Tripp dkk dengan truk tukang pukul Terravex yang berjumpalitan dan saling hantam di pinggir tebing saat klimaks, lumayan seru dan menegangkan. Chris Wedge yang dulu menyutradarai film animasi Ice Age tak terlihat gagu dalam menggarap sekuens aksi perdananya untuk film live-action ini.

Written by Jeremy

review-the-lego-movie-2

Review Film The Lego Movie 2: The Second Part (2019)

review-dragon-ball

Review Film Dragon Ball Super: Broly (2019)