in

Review Film Paterson (2016)

review-film-paterson

Di film PatersonAdam Driver bermain sebagai Paterson, sopir bis yang tinggal dan bekerja di kota bernama Paterson. Ya, sang sopir dan kotanya punya nama yang sama. Setiap hari ia bangun sekitar jam 6 pagi, sarapan sereal, bersiap, lalu berangkat ke tempat kerja sembari membawa bekal. Setelah mengantarkan penumpang kesana kemari di seantero kota sembari mendengarkan mereka ngobrolin hal remeh, Paterson pulang ke rumah sekitar jam 6 sore. Di malam hari, ia mengajak anjing bulldognya Marvin jalan-jalan lalu berhenti di bar milik Doc (Barry Shabaka Henley). Marvin diikat di luar dan Paterson bercengkerama di dalam bar.

Itulah kira-kira plot filmnya dan kita melihatnya berulang-ulang, setiap hari. Ada beberapa detail tambahan dalam rutinitas Paterson yang monoton. Paterson ternyata juga seorang penulis puisi. Di beberapa waktu, termasuk di saat istirahat, Paterson akan mengeluarkan buku catatan kecilnya lalu mulai menulis puisi mengenai hal-hal di sekitarnya. Kita mendengar suara Driver mendeklamasikan puisi sementara prosanya akan tertulis di layar.

Paterson mendapati puisi dari pengalaman sehari-hari sehingga puisinya kebanyakan terinspirasi dari hal remeh, entah mengenai korek api atau saat berjumpa dengan orang-orang yang baru pertama kali ditemuinya di jalan. Secara pribadi, saya merasa puisi Paterson tak begitu menarik, walau pemilihan kata-katanya menunjukkan bahwa observasi Paterson cukup unik. Tapi saya bukan pujangga, jadi tahu apa saya soal puisi.

Paterson (orang bukan kota) adalah subyek fiktif, sementara Paterson (kota bukan orang) adalah subyek nyata. Apakah yang dimaksud dengan judul film adalah orangnya atau kotanya, saya juga tak tahu pasti, tapi mungkin keduanya sih karena keduanya terejawantahkan sebagai karakter. Kotanya terasa seintim kita menghabiskan waktu bersama Paterson. Kota Paterson adalah tempat dimana idola Paterson (kota dan orang) menemukan inspirasi, seoran pujangga tenar bernama William Carlos Williams. Tapi Paterson tak ingin mempublikasikan karyanya, apalagi menjadi pujangga tenar. Apa alasannya, kita juga tak bakal tahu pasti.

Disutradarai oleh Jim Jarmusch, film ini punya ritme bercerita yang tenang dan nyaris meditatif, gaya yang biasa kita dapatkan dalam film Jarmusch sebelumnya. Namun film ini saya pikir jauh lebih meditatif karena nyaris tak ada hal mencolok yang terjadi di setiap hari dalam rutinitas Paterson sehingga membuat kita sering merenung. “Ini film maunya apa sih?”. Nah, inilah yang sering saya dapati dalam film yang dibuat oleh sineas handal. Mereka tak pernah keliru saat menangani apapun yang mereka garap sebagai film, tapi tak semuanya merupakan hal yang menarik untuk dipilih. Film ini digarap dengan terampil sekali tapi saya bisa membayangkan sebagian penonton yang bakal mencak-mencak karena menonton film yang pada dasarnya tak menceritakan apa-apa.

Satu dari sedikit sekali hal yang mendekati konflik adalah dengan keberadaan istri Paterson, Laura (Golshifteh Farahani). Ia cantik, manis, dan penuh semangat, anda kesulitan untuk tak jatuh cinta padanya. Namun Laura punya mimpi menggebu-gebu menjadi penyanyi country (ia sampai minta dibelikan paket belajar gitar), suka jualan kue di pasar, sampai mencoreti semua aksesoris rumah tangga (bantal, kursi, seprei, gorden) dengan motif-motif geometris. Hasilnya lumayan juga sih, tapi apa namanya bukan OCD kalau melakukannya dengan penuh obsesi. Paterson dan Laura tampaknya saling mencintai satu sama lain, namun mereka sangat berbeda nyaris di segala hal. Paterson sendu, Laura berapi-api. Apa Paterson sebenarnya gusar juga ya dengan perilaku Laura? Entahlah, karena tak pernah terlihat.

Ini menjadi penampilan yang tricky bagi Driver. Ia harus memberikan karakter yang kaya lewat performa yang sedikit dalam sebuah film yang cenderung monoton. Namun ekspresi yang kalem didukung dengan suara yang berat membuat ia menjadi prosa tersendiri. Sulit dicerna at the face level, tapi kita bisa merasakan kedalamannya. Momen dialog Paterson dengan seorang turis Jepang (yang juga pujangga) di bagian klimaks sedikit banyak menggambarkan sisi sensitif Paterson.

Itu atau saya saja yang berpikiran terlalu jauh. Ada kans bahwa Jarmusch ngerjain penonton lewat film ini. Membuktikan kalau ia bisa membuat film kosong dan orang takkan menyadarinya. Namun boleh jadi ia memang ingin merayakan ordinary people with their ordinary lives lewat film ini. Ia begitu tertarik menyuguhkan ke-biasa-an hari-hari Paterson yang nyaris tanpa masalah. Sama seperti kehidupan nyata, tak banyak hal yang terjadi tapi di saat bersamaan juga banyak hal yang terjadi.

Written by Jeremy

review-dragon-ball

Review Film Dragon Ball Super: Broly (2019)

review-film-Sausage-Party

Review Film Sausage Party (2016)