in

Review Film: Snowden (2016)

review-snowden

Menengok kisah whistleblower dari NSA yang merupakan salah satu skandal publik paling gress dalam beberapa dekade terakhir, tak mengejutkan jika kemudian ini difilmkan oleh sineas veteran Oliver StoneSnowden adalah barang panas yang minta digarap. Sementara Stone boleh dibilang pakar sinema sejarah sekaligus pecinta konspirasi Amerika. Lihat saja film-filmnya yang lalu seperti JFK, Nixon, dan W.. Dalam Snowden, Stone masih menunjukkan talentanya dalam membuat statement politis lewat sinema, tapi sayangnya, untuk sineas sekelas Stone, filmnya berakhir kurang bertaji. Ini adalah film tentang salah satu orang paling dicari di Amerika, namun filmnya tak punya cukup intensitas untuk membuatnya terlihat sebagai film tentang salah satu orang paling dicari di Amerika.

Mungkin ini karena Stone yang tak ingin membuat ceritanya sedemikian kompleks, lantas menyajikan tokoh utama yang tak ambigu, tapi di saat bersamaan juga dangkal. Stone menghilangkan semua keraguan terhadap Snowden. Dalam film ini, Snowden adalah pahlawan Amerika. Patriot yang layak diselamatkan dari pengasingannya di Rusia. Dengan begitu banyaknya materi krusial di tangannya, Snowden tak tergoda untuk memanfaatkannya demi tujuan pribadi. Ini mungkin ada benarnya juga. Dalam setiap wawancara yang dilakukannya, Snowden selalu bilang bahwa semua aksinya ialah karena cintanya kepada negara.

Perbandingan dengan film dokumenter Citizenfour yang disusun oleh Laura Poitras, tak terelakkan, karena keduanya mengangkat kisah yang sama. Meski demikian, dokumenter terbaik Oscar 2015 ini menawarkan sesuatu yang lebih esensial, lebih kompeks, dan lebih menyengat. Melalui wawancara yang dilakukan Poitras didampingi jurnalis The Guardian di sebuah kamar hotel di Hong Kong, kita masuk ke dalam urgensi yang riil, baik soal mereka yang harus sembunyi-sembunyi karena takut digerebek maupun soal skandalnya sendiri yang melibatkan privasi para netizen di seluruh dunia.

Film Stone ini juga memanfaatkan momen tersebut sebagai framing device. Di kamar hotel tadi, Snowden (Joseph Gordon-Levitt) bertemu dengan Poitras (Melissa Leo) serta wartawan Glenn Greenwald (Zachary Quinto) dan Ewen MacAskill (Tom Wilkinson). Melalui media The Guardian, Snowden bermaksud membongkar konspirasi pemerintah yang sistematis. Selagi ini berjalan, kita diajak untuk mengintip masa lalu Snowden.

Snowden awalnya memulai karir di militer, tapi fisiknya tak begitu menunjang, apalagi ia juga menderita gejala epilepsi yang nanti akan kita ketahui. Ia lalu memilih berkarir di belakang layar komputer setelah direkrut CIA pada tahun 2006. Kecerdasan dan ketekunanya menarik perhatian atasannya, Corbin O’Brian (Rhys Ifans) yang kemudian mempromosikannya ke jabatan dengan allowance yang lebih besar, menjadi kontraktor NSA. Disini, Snowden bertemu dengan rekan kerja (Ben Schnetzer) yang mengungkap sebuah program rahasia bernama Xkeyscore, aplikasi semacam Google versi liar yang bisa mengintip semua aspek kehidupan, tak hanya kehidupan online tapi juga dunia nyata, termasuk mengaktifkan kamera ponsel dan webcam milik warga sebagai mata-mata.

Ini bukan hal baru. Kita sudah menduga konspirasi ini sejak lama. Tapi tahukah kita bahwa pemerintah Amerika melakukannya tak hanya pada terduga teroris tapi juga, secara teknis, pada semua orang? Tahukah kita mereka boleh melangkahi regulasi untuk melakukan hal tersebut? Dalam sebuah adegan, Snowden bahkan harus menutup kamera laptopnya saat akan membicarakan sesuatu yang penting dengan orang lain. Ini adalah fakta yang membuka mata, khususnya bagi yang belum menonton Citizenfour. Setelah dipikir-pikir, mungkin film ini lebih cocok ditonton bagi yang belum melihat Citizenfour.

Invasi privasi ini mengusik Snowden. Ia menjadi galau tapi tak bisa menceritakan hal tersebut kepada pacarnya, Lindsay (Shailene Woodley). Snowden juga tak bisa memberi alasan kuat kenapa mereka harus selalu berpindah-pindah rumah, mulai dari Jenewa, Hawaii, hingga Tokyo. Iya, ini drama dan drama ini terasa seperti berasal dari film yang berbeda; ia tak menempel dengan pas pada film secara keseluruhan. Bukan salah dari penampilan solid Gordon-Levitt yang benar-benar mengimpersonasi Snowden termasuk gestur dan gaya bicaranya yang hati-hati. Untuk karakter pendukung, Stone menggandeng nama-nama menarik, termasuk Nicolas Cage, Timothy Olyphant, Joely Richardson, Logan Mashall-Green, Keith Stanfield, dan Ben Chaplin, dan meski penampilan mereka kuat, tapi tak mendapat porsi yang cukup untuk tampil ke permukaan. Dengan scope yang lebih besar daripada Citizenfour, sedikit mengejutkan saat kita hanya mendapatkan hal yang lebih sedikit dari film Stone ini.

Akurasi historis bukanlah target Stone. JFK, misalnya, tidak mengungkap penjelasan di balik pembunuhan berencana John F. Kennedy. Alih-alih, agenda Stone adalah untuk menyampaikan pernyataan spesifik, menangkap perasaan tertentu terhadap sebuah peristiwa. Di satu adegan, Snowden berujar, “I’m not the story”. Benar sekali, fokus film Snowden bukanlah Snowden itu sendiri, melainkan isu yang dibawa oleh Snowden. Stone sepertinya lebih bermaksud merayakan aksi whistleblowing-nya, simbol perlawanan terhadap pelanggaran privasi oleh pemerintah. Itulah mengapa kita melihat Snowden hanya dari satu sisi, atau kenapa kita hanya disuguhkan sekilas mengenai urgensi sesi wawancara dan usaha rumit Snowden kabur ke Moskow.

Tujuannya sangat berkelas. Namun ironisnya hal ini juga mengorbankan keseruan temanya, bahkan mendegradasi subjek yang diangkatnya. Semua orang boleh punya pendapat masing-masing soal Snowden; entah menganggapnya sebagai patriot atau penjahat bangsa. Yang jelas, ia telah melakukan sesuatu yang penting, entah kita sadar atau tidak. Apakah anda menonton video wawancara kocak antara John Oliver dengan Snowden yang saya sediakan link-nya di paragraf pertama? Lihat bagaimana begitu banyak orang yang tak tahu siapa atau bahkan apa yang dilakukan Snowden. 

Written by Jeremy

review-film-shazam

Review Film Shazam! (2019)

review-Review Film Assassin s Creed (2016)

Review Film: Assassin’s Creed (2016)